Menjadi informal coach dimanapun

Dalam perjalanan saya mempelajari coaching, sudah sangat banyak hal yang dapat saya pelajari, dari yang hanya membuat saya manggut-manggut saja sampai membuat saya diam dan menjadi banyak berpikir tentang kehidupan. Self-reflection. Ya itu kata yang tepat untuk merangkum proses pembelajaran ini.

Kali ini saya mau share tentang pengalaman saya dalam informal coaching, baik saya menjadi informal coach ataupun saya di-coach oleh orang lain.

Saat itu saya sedang ada pekerjaan bersama tim TNI di daerah Rumpin Bogor selama 3 hari 2 malam. Daerah antah berantah di Bogor sana, pelosok dan banyak nyamuk. Bermalam di barak mereka dan merasakan sedikit kebiasaan mereka.

Singkat cerita, saya terlibat dalam satu kegiatan malam dimana kami harus melintasi daerah pemukiman penduduk dan kebun-kebun mereka. Sebelum kegiatan itu berlangsung, tentunya saya panik karena pada dasarnya saya takut gelap dan pastinya takut kalau ketemu hantu! Hahahaha…Nah ternyata ketakutan saya diperhatikan oleh salah seorang TNI. Seorang bapak-bapak sekitar umur awal 50an atau akhir 40an, berkulit gelap dan terlihat banyak semburat di wajahnya mungkin karena lelah atau usia, sebut saja namanya Pak Badu.

Dia pun menegur saya, “Mba Rina kenapa?”

“Hehehe ga apa-apa Pak, saya cuma takut aja”

Dia menatap saya, “Apa yang membuat Mba Rina takut?” saya mendapatkan pertanyaan itu rasanya seperti kesetrum raket listrik nyamuk. Kaget, ada pertanyaan seperti itu dari seorang TNI dan pastinya bingung dan ga kepikiran apa jawabannya.

Setelah berpikir beberapa saat, kemudian saya mengemukakan beberapa alasan yang membuat saya takut.

Dan Pak Badu kembali bertanya, “Bagaimana supaya Mba Rina ga ngerasa takut lagi?”

Terus terang saya tidak bisa menjawab pertanyaan ini. Saya berpikir cukup lama dan akhirnya saya bilang, “saya ga tau bagaimana caranya. Ini yang selama ini jadi permasalahan saya”

“Apakah saya bisa memberikan saran?” Pak Badu kembali bertanya

“Silahkan Pak”

Pak Badu kemudian memberikan beberapa saran-saran yang sudah dia jalanin. Salah satunya dengan cerita seperti ini.

“Menurut Mba Rina, saya menjadi TNI dan ikut berperang memangnya ga takut Mba? TNI juga manusia biasa kok Mba, pasti ada perasaan takut. Tapi saya memilih untuk tidak memikirkan ketakutan saya dan fokus dengan tujuan saya.”

Mendengar itu rasanya saya seperti tertampar. Saya pun diam, dan terus memikirkan jawaban dari Pak Badu.

Selang beberapa waktu, kita kembali ngobrol mengenai apapun (mungkin ini cara Pak Badu agar saya ga kepikiran macem-macem, hmm pintar juga dia). Sampai dimana Pak Badu bercerita bahwa dalam hidupnya dia tidak pernah melakukan perencanaan.

“Saya ga pernah buat planning Mba. Apa yang saya mau lakukan, ya lakukan saja. Tidak perlu dibuat planning jauh-jauh hari”, Pak Badu pun mulai bercerita

“Apa yang membuat Pak Badu berpikir tidak perlu melakukan planning?”, saya membalas beliau

“Karena kalau sudah buat planning trus ternyata gagal gimana? Sakit hati kan? Udah capek-capek bikin planning malah gagal”, ucap Pak Badu sambil membetulkan topinya.

“Pak, bagaimana jika Pak Badu melakukan planning dan ternyata yang di-planning berhasil?”

Pak Badu pun diam dan cuma menatap saya. Senyumannya pun sedikit demi sedikit mulai hilang. Pak Badu nampak serius.

Saya tunggu beberapa menit, kemudian saya bilang seperti ini,” Pak, coba Pak Badu bayangin, misalnya apa yang di-planning berhasil, Apa yang akan Bapak rasakan saat itu?”

Pak Badu semakin nampak serius, diam dan menunduk.

Lama sekali Pak Badu terdiam.

Hingga akhirnya Pak Badu berucap dan menatap saya teduh, “Mba Rina, saya baru kali ini mendapatkan pandangan positif, luar biasa sekali. Saya akan memikirkan ini.”

Dan saya pun kembali berasa seperti kesetrum raket listrik nyamuk. Aaawww…

Berdasarkan cerita tadi, saya pun berkesimpulan bahwa dimanapun kita bisa menjadi informal coach. Membantu orang lain untuk membuka perspektif dan memberikan dampak yang sangat berarti untuk kehidupannya. Seni memberikan powerful question juga sungguh sangat powerful. Bagaimana pertanyaan-pertanyaan itu telah menggugah perasaan dan pikiran. Bukan hanya melulu tentang aksi yang akan dilakukan tapi walaupun hanya sampai dimana coachee menjadi tergerak untuk mengakui  dan mau untuk memikirkannya, buat saya itu sudah menjadi langkah awal yang sangat penting. Kenapa saya bisa jelaskan demikian? Karena saya merasakan sendiri bagaimana di-coach oleh seorang informal coach seperti Pak Badu ini.

Satu hal lagi terakhir, perhatikan deh, ternyata Pak Badu saat memberikan saran ke saya, dia meminta ijin dahulu. Coaching rules banget kan. Saya jadi curiga, jangan-jangan dia coach yang menyamar!

A great way to spread good vibes is by giving good words.  So start yours!

Advertisements

Setelah Coaching session, lantas apa lagi?

Pertanyaan ini muncul ketika saya selesai melakukan sesi coaching dengan Karyawan saya di kantor. Stimulasi pertanyaan sudah diajukan dan komitmen pun sudah diutarakan oleh Karyawan saya. Merasa puas dengan sesi coaching ini? Pada awalnya iya, namun sekembalinya saya ke meja kerja, saya pun bertanya-tanya; Bagaimana dengan komitmen yang diutarakan tadi, apakah cukup tanyakan kembali saja di sesi coaching berikutnya? Di tengah kesibukan pekerjaan, apakah saya mempunyai kapasitas yang cukup untuk mengingat dengan rinci setiap komitmen yang dibuat?

Pertanyaan ini lantas berkembang, menjadi bukan hanya untuk bagaimana mengingat komitmen dari Karyawan saya, tetapi juga bagaimana melihat perubahan yang terjadi pada Karyawan itu dan bagaimana setiap sesi coaching  menjadi tempat pembelajaran baru bagi saya. Gimana? Udah mulai pusing dengan pertanyaan-pertanyaan ini? Toss!! Kita sama…

Nah setelah melakukan beberapa sesi coaching dan membaca referensi, saya akhirnya melakukan beberapa hal ini yang menurut saya sesuai dengan yang saya inginkan.

Yuk, kita bahas satu-satu yah.

  1. Tuliskan semua hal

Setelah sesi coaching selesai, maka biasakan untuk menuliskan semua yang menjadi komitmen. Sebaiknya menuliskan ini di dalam satu buku/ catatan yang memang diperuntukan untuk coaching supaya memang menunjukan bahwa kita bersungguh-sungguh dalam perjalanan coaching ini. Beberapa pertanyaan yang biasanya membantu dalam penulisan:

  • Apa komitmen yang diutarakan oleh Karyawan? Bagaimana Karyawan melakukannya?
  • Apa yang bisa saya lakukan untuk membantu Karyawan?
  • Apa yang sudah saya pelajari dari sesi coaching ini yang saya tidak tahu sebelumnya?
  • Apa yang mungkin dipelajari dari Karyawan dari sesi coaching ini?
  1. Lakukan pengecekan atas komitmen

Lakukan pengecekan berkala langsung ke Karyawan untuk mengetahui kemajuan yang sudah dilakukan. Sampaikan juga bahwa kita terbuka untuk diskusi jika menemukan kesulitan.

  1. Mengamati perubahan

Amati perubahan yang terjadi pada Karyawan baik itu perubahan sikap, perilaku ataupun hubungan antar Karyawan di dalam ataupun luar tim. Perhatikan dan komunikasikan umpan balik dampak apa yang dihasilkan. Dengan begini, Karyawan akan merasa diapresiasi sehingga akan lebih termotivasi.

  1. Evaluasi diri sendiri

Mulai evaluasi diri dengan pertanyaan ini:

  • Apakah saya sudah membantu atau memenuhi kebutuhan dari Karyawan? Coba lakukan pengecekan kepada Karyawan yang sudah kita Coaching, what went well – what didn’t work, namun tetap percayakan your personal judgment yah dan pastinya jangan mudah baper J
  • Apakah hasil dari coaching ini semuanya hanya dari pemikiran Karyawan atau ada ekspektasi/ agenda pribadi yang dimasukkan dalam komitmen? Maklum sebagai Manager rasanya pasti gemas banget untuk langsung memberikan arahan sesuai dengan pengalaman dan pengetahuan kita.

Well, kembali lagi ya, ini versi saya lho. Saat ini saya masih membutuhkan ini dalam setiap sesi coaching saya. Jika ada teman-teman yang sudah sangat terbiasa dengan proses coaching, maka tentunya hal ini menjadi tidak perlu.

Once ever said, we don’t grow when things are easy. We grow when we face challenges. Jadi sudah siapkan para Coach di luar sana untuk melanjutkan learning journey yang lebih menantang?